SMK Bayt Al-Hikmah Pasuruan

Pendidikan Unggul Berkarakter

Pesan Penting Kiai Idris Hamid kepada Orang Tua Santri

Senin, 21 Desember 2020 ~ Oleh Administrator ~ Dilihat 4177 Kali

Pasuruan, Bayt Al-Hikmah - Silaturrahim Wali Santri Kelas XII SMK & SMA Bayt Al-Hikmah digelar di Aula Yayasan Bayt Al Hikmah Pada Ahad, 20 Desember 2020 kemarin, Acara yang dihadiri oleh sekitar 60 wali santri ini diawali sambutan dari Ketua Umum Yayasan Bayt Al-Hikmah, H. Ahmad Taufiq AR, M.Si atau yang biasa akrab dipanggil Gus Taufiq. Dalam sambutannya beliau menyampaikan bahwa setengah tahun kedepan anak-anak kita akan menyelesaikan Pendidikan di Bayt Al-Hikmah. Enam tahun yang lalu Bapak dan Ibu menyerahkan putra/putri kepada Pengasuh bagi yang masuk dari SMP dan tiga tahun yang  lalu bagi yang masuk sejak SMA atau SMK. Putra dan putri Bapak dan Ibu akan menjadi mutakhorrijin atau alumni santri Bayhi yang berada di luar pesantren.

Gus Taufiq juga menegaskan bahwa yayasan dan pondok pesantren telah menanamkan mental dan karakter serta nilai-niai agama kepada para santri guna memenuhi tuntutan yang dibutuhkan oleh masyarakat dan akan menentukan peran dan arah masa depan santri. Sisa waktu di semester akhir ini, para pimpinan sekolah dan pondok akan memberikan jurus pamungkas untuk mempersiapkan anak-anak kita  masuk di jenjang pendidikan yang lebih tinggi (jenjang perkuliahan). Santri yang belajar di ponpes tidak akan bisa melupakan kenangan manis selama menjalani masa belajarnya dan di harapkan anak-anak kita akan mampu mengukir juga kenangan indah di jenjang pendidikan lanjutannya (perkuliahaan atau sejenisnya).

Selain itu, Gus Taufiq menghimbau kepada wali santri yang hadir agar jangan sampai putra/putrinya justru kelak akan mendapatkan penyesalan gara-gara tidak sesuai dalam menentukan pilihan jurusannya. Boleh jadi karena jurusan pilihan orang tua yang terlalu dipaksakan atau mungkin jurusan yang dipilih tidak lagi relevan pada saat mereka lulus. Lima tahun sampai sepuluh tahun kedepan jelas tidak sama dengan situasi sekarang. Contoh saja dalam 1 tahun   ini, kita di hadapkan sesuatu yang tidak pernah kita duga sebelumnya. Orang yang sepintar apapun di dunia ini tidak mampu menghadapi kondisi saat ini yaitu adanya pandemic Covid-19. Oleh karenanya pikirkan dan diskusikan serta carilah infomasi kemana anak kita akan melanjutkan. Ajak anak kita untuk berdiskusi dalam menentukan pilihan jurusan dan universitas yang akan di ambil karena mereka sudah mempunyai pemikiran dan wawasan. Harapannya agar jurusan dan perguruan tinggi yang di pilih sesuai dengan ketrampilan dan semangat anak. Dalam penutupnya, Gus Taufiq menegaskan bahwa dalam membekali para santri terutama kelas XII, Pondok Pesantren Bayt Al Hikmah mempunyai 3 program, yaitu: (1) Passion Based Learning, (2) Pendampingan Santri, (3) Tuntas mengantarkan santri sampai studi di jenjang lanjutan (kuliah) baik dalam maupun luar negeri.

Dalam kesempatan yang sama Pengasuh Ponpes Bayt Al Hikmah, KH. M. Idirs Hamid  memberikan sambutan dan tausyiah kepada wali santri yang hadir senada dengan apa yang di sampaikan Gus Taufiq. Beliau menyampaikan sebentar lagi anak-anak kita akan meneruskan pendidikan yang lebih tinggi, silahkan anak di persiapkan untuk  menjadi generasi yang akan menempati pos-pos yang dibutuhkan seperti tenaga legistlatif, eksekutif  dengan tetap menjaga tradisi dasar agama dan akhlak yang mulia. Selalu berpegang teguh dengan tradisi NU dengan prinsip al-muhafadzah alal-qadim al-shalih wal-akhdzu bil-jadid al-ashlah, yaitu “melestarikan nilai-nilai lama yang baik dan menerapkan nilai-nilai baru yang lebih baik".

  1. M. Idris Hamid memberi motivasi untuk terus belajar tanpa batas. Beliau mencotohkan salah satu keponakannya (Neng Hindun), putridari Alm. K.H. Nasih saat menempuh S1 belajar di 2 universitas sekaligus, lulus S1 melanjutkan pasca sarjana (S2)  di Belanda dan melanjutkan lagi program doctor (S3) di Jakarta. Dia menguasai Bahasa inggris dengan nilai Toefl 750 dan perkuliahan yang di jalani di tempuh dengan mendapat beasiswa. Walaupun disibukkan dengan kuliah ia bisa hafal Al Qur’an. Saat ini ia menjadi staff  Menteri tenaga kerja dan juga menjadi pengasuh pondok pesantren di Jepara. Anaknya dulu sekolah di sini (SMP  Bayt Al Hikmah)  saat kelas 3 sudah hafal Al Qur’an 30 Juz.

Kiai Idris juga memberikan semangat kepada wali santri agar memberikan motivasi dan dukungan kepada putra/putrinya untuk selalu belajar sepanjang hayat (tanpa batas) sesuai dengan ajaran Islam “Uthlubul ‘ilma minal mahdi ilal lahdi”, yang artinya “Tuntutlah ilmu mulai dari ayunan hingga ke liang lahat”. Kita sebagai orang tua tinggal mendoakan dan mengantar prinsip-prinsip ibadah. Beliau menambahkan, bagi yang mau dan semangat belajar ada beasiswa dari luar negeri untuk santri pondok pesantren, misalnya Rusia, Mesir, Yaman, dan lain-lain. Orang tua jangan melarang anak untuk mondok dan kuliah di luar negeri karena alasan kekhawatiran yang berlebihan. Di ujung sambutannya KH. M. Idris Hamid mengajak para wali santri untuk terus-menerus mendorong & mendukung putra/putrinya dalam konsep belajar sepanjang hayat. Jangan berhenti walau sudah menikah atau punya anak, terus belajar dan belajar.

Giliran berikutnya, Ibu Nyai Kuni Zakiah mengawali sambutannya dengan berdoa semoga Allah memberikan rahmat sehingga kita di berikan kemudahan dan keberkahan oleh Allah SWT. Beliau juga mengajak untuk memperkuat iman dan istiqomah menjalankan ibadah kepada-Nya serta senantiasa berpegangan pada ayat Al Qur’an. Semakin besar kedudukan seseorang maka semakin besar masalah yang dihadapinya, hanya dengan istiqomah kita akan di rahmati Allah SWT sehingga dapat mengatasi permasalahan yang ada.

Dengan semangat untuk memberikan motivasi kepada wali santri yang hadir, Ibu Nyai menceritakan rekam jejak putra-putrinya. Putri pertama menikah pada usia 18 tahun dan mempunyai anak namun tetap melanjutkan kuliah S1 di usia 20 tahun. Putranya yang kedua mondok di beberapa pesantren seperti Pondok Pesantren Darul Lughoh wa Da’wah (Dalwa), pesantren Langitan, kemudian melanjutkan kuliah di Syiria dan kuliah S1 juruan ilmu politik dengan gelar SiP. Putra ke tiga belajar di beberapa pesantren antara lain Suci, Gontor, kemudian belajar di Kudus, melanjutkan ke  Maroko, lalu belajar di Yaman dan terakhir belajar di Cianjur. Anak ke-4 (putri) kuliah di UI, Jakarta. Lulus dari UI mendapat beasiswa ke Turki. Anak yang ke-5 (putra) saat ini masih kelas XII SMA di Bayt Al Hikmah.

Ibu Nyai melanjutkan pesannya agar orang tua untuk melakukan istikhoroh dalam memilih tempat belajar anaknya sampai mendapatkan isyaroh di sertai doa orang tua khususnya doa seorang ibu. Di manapun anak kita berada, yakinlah bahwa Allah pasti akan menjaganya, karena kita tidak mampu mengawasi dan menjaga selama 24 jam. Selain itu, beliau juga berpesan agar kita selaku orang tua untuk senantiasa memberi makan anak-anaknya dengan makanan yang halal. Beliau mengajak wali santri untuk menjadi figur yang sangat di butuhkan oleh anak, berilah pemahaman anak untuk memakai HP seperlunya saja untuk hal-hal yang positif. Boleh menggunakannya setelah membaca Al Qu’an 1 juz, baca kitab dan wiridan tertentu. Orang tua harus mendidik dengan penuh kasih sayang kepada anak, semisal jika  anaknya berbohong maka peluklah dan bisikkan ke telinganya dengan suara lembut, “Nak, apakah kamu tidak takut kepada Allah?“, tambahnya ketika memberikan contoh saat menasehati putranya. Di akhir sambutannya, Ibu Nyai mengucapkan terima kasih dan memohon maaf kepada wali santri yang hadir apabila ada kesalahan/kekurangan, lalu menutupnya dengan panjatan doa.

Setelah Ketua Yayasan dan Pengasuh memberikan sambutan maka acara di lanjut dengan pengarahan/bimbingan karier di sekolah. Acara pengarahan ini dibuka oleh Neng Hj. Widad Bariroh, istri dari Gus Amak selaku kepala pesantren Bayt Al-Hikmah. Neng Widad memulai pembicaraannya dengan menegaskan bahwa anak-anak yang akan memasuki jenjang perkuliahan sudah tidak bisa disebut lagi sebagai anak-anak. Mereka sudah mempunyai wawasan dan pilihan sendiri. Orang tua harus membangun komunikasi dengan musyawarah apa yang menjadi pemikiran dan pilihan anak. Sebagai orang tua, kita harus memberi ruang kepada anak-anak kita dan mengarahkannya, tapi bukan memaksakan kehendak kita kepada anak-anak.  

Lebih lanjut Neng Widad menghimbau agar orang tua membiarkan anak-anaknya menentukan pilihan mereka sendiri, apakah melanjutkan kuliah, bekerja atau mondok. Bagi yang meneruskan kuliah ke PTS atau PTN ajak anak musyawarh dan dengarkan pendapat dan keinginan mereka, lihat progresnya serta dorong untuk istiqomah  dalam ubudiyahnya, karena dengan mondok mereka sudah mempunyai bekal (agama) untuk melanjutkan ke jenjang Pendidikan yang lebih tinggi. Untuk mendukung itu Neng Widad juga mengingatkan orang tua untuk tidak sering mengizinkan anaknya (keluar dari pondok) untuk keperluan yang tidak terlalu urgent, apalagi kondisi pandemic saat ini. Biarkan mereka istiqomah beribadah dan belajar secara berkelanjutan. Dalam semester akhir ini Neng Widad juga berharap agar ngajinya (Al Qur’an) harus sudah tepat dan  tuntas. Syukur yang tahfidz dapat menjaga dan meraih syarat beasiswa masuk perguruan tigggi dengan setor hafalan minimal 10 juz. Begitu juga bagi yang jurusan kitab keluar dari pondok minimal bisa mengajar pengajian di komplek (perumahannya). Bagi anak yang berkeinginan bekerja tidak ada salahnya juga membuka usaha seperti alumni dari SMK Bayt Al Hikmah yang membuka studio photo di Lumajang. Bagi anak-anak yang ingin melanjutkan pendidikan di pondok juga harus didukung oleh orang tua agar konsep belajar sepanjang hayat seperti yang disampaikan pengasuh bisa dijalankan. Mengakhiri sambutannya Neng Widad manyampaikan bahwa pembinaan terakhir di pondok adalah membina karakter. Di  masa pandemic seperti ini santri sangat di untungkan karena anak-anak yang berada di pondok dapat istiqomah melakukan ibadah dan membangun karakter.

Selanjutnya guru BK, Ustadzah Diana memberikan informasi terkait bimbingan karier yang dilakukan di SMK & SMA. Beliau mengawali paparannya dengan menjelaskan bahwa bimbingan karier ini telah dilakukan sejak anak duduk di kelas X hingga kelas XII. Bimbingan karier ini dilakukan melalui beberapa tahapan yaitu; 1) Perencanaan karier, 2) Pemetaan jalur  kuliah, baik dalam Negeri maupun luar Negeri, 3) Pemetaan portofolio, 4) Document system dan MOU, 5) Evaluasi pelaksanaan, 6) Pencatatan alumni. Adapun pemetaan karier terbagi menjadi 1) Pemetaan kuliah dalam negeri, 2) Pemetaan kuliah luar negeri, 3) Lanjut mondok, 4) Pendalaman skill, 5) Mengabdi, dan 6) Bekerja.

Mengakhiri paparan sharing bimbingan karier, guru BK dan kepala sekolah  menjawab pertanyaan bahwa sekolah akan berusaha untuk mendapatkan prioritas dari universitas hususnya yang sudah melakukan MOU dengan Bayt Al Hikmah. Adapun anak yang mengabdi di ponodk akan memperoleh keuntungan mendapat pengalaman dalam pengembangan keterampilan berkomunikasi, menghadapi serta menyelesaikan masalah. Pengalaman-pengalaman yang mereka dapatkan inilah yang akan membentuk mereka menjadi pribadi yang lebih tangguh dan siap untuk terjun di masyarakat. Pengalaman mereka adalah guru yang terbaik, demikian kata Gus Aziz, adik Gus Amak dalam sesi menjawab pertanyaan wali santri. Di tambahkan juga bahwa anak yang mengabdi 2 tahun akan mendapat beasiswa dari Yayasan Bayt Al Hikmah antara lain dalam bentuk biaya kuliah di PT terdekat di kota Pasuruan.

Di tengah mengikuti acara silaturahim wali santri dan pengasuh, kami sempat berbincang dengan salah satu wali santri, yang mana putranya merupakan anak ragil. Wali santri tersebut menyatakan bahwa beliau merasa pondok adalah tempat yang tepat dan aman bagi anaknya untuk belajar dan  terhindar dari pengaruh lingkungan yang negatif di sekitar rumahnya (narkoba). Beliau merasa kewalahan mengontrol anaknya selama liburan 3 minggu yang lalu dan merasa khawatir dengan pengaruh lingkungan. Sejalan dengan pengarahan dari pengasuh dan Yayasan Bayt Al Hikmah bahwa pendidikan di pondok selama 3 tahun yang di tempuh menjadi bekal/pondasi agama bagi anak santri di jenjang yang lebih tinggi. Bravo Pondok Pesantren Bayt Al Hikmah karena Pendidikan di pondok pesantren Bayt Al Hikmah memberikan pendidikan kepada anak didik secara paripurna.

                                                                               Oleh: A. Muhaimin (Wali Santri XII IPS Putra)



KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT